Kamis, 21 April 2016

Cara Agar Daging Kambing Empuk dan Tidak Bau







Membuat Daging Kambing Empuk dan Tidak Bau


Cara sederhana menghilangkan bau prengus (bau khas kambing) serta membuat daging kambing lebih empuk.


Daging kambing memiliki cukup banyak manfaat bagi kesehatan tubuh, antara lain sebagai sumber energi, protein, zat besi, serta meningkatkan sistem kekebalan. Daging kambing bahkan mengandung riboflavin, atau vitamin B12, yang berkhasiat bagi kesehatan mata.


Tetapi bagi sebagian orang, daging kambing merupakan menu yang mereka hindari karena baunya prengus (bau khas kambing). Padahal, jangan berhenti sampai disitu saja sehingga mengurungkan untuk menikmatinya, ada kiat mengolah daging kambing agar empuk dan tidak bau, sehingga dapat dinikmati tanpa menimbulkan gangguan.


 Simak caranya di bawah ini :


1. Cuci daging kambing kemudian tiriskan/keringkan. Tumbuk kunyit, jahe, dan bawang putih hingga halus. Oleskan bumbu halus ini ke daging kambing yang telah dikeringkan. Diamkanlah selama 30-40 menit kemudian cuci kembali.


2. Haluskan kunyit, jahe, dan bawang putih dan rebuslah daging kambing selama 30 menit bersama campuran bumbu ini. Tambahkan kecap manis dan garam secukupnya selama merebus. Jika ingin daging lebih empuk, rebus sampai 60 menit.


Cara yang sama bisa diterapkan untuk jeroan. Rebuslah jeroan sampai keluar buih-buih putih. Ambil buih yang mengumpul di permukaan itu lalu buang sampai habis.


3. Sebelum memasak, bungkuslah daging kambing dengan daun pepaya dan buah nanas. Daun pepaya membantu membuat daging menjadi empuk setelah matang. Sementara itu, nanas berfungsi untuk menghilangkan bau prengus (bisa juga diganti perasan jeruk nipis atau jeruk limau).


4. Bumbu dapur atau rempah-rempah yang beraroma kuat juga dapat membantu menyamarkan bau prengus. Contohnya, kapulaga, kayu manis, cengkeh, dan sejenisnya. Tidak hanya menghilangkan bau kambing, rempah-rempah itu juga dapat membuat rasa makanan menjadi lebih nikmat.


Ada pula yang menyarankan untuk langsung mengolah daging kambing yang baru disembelih, tanpa mencucinya sama sekali. Bau prengus akan hilang dengan sendirinya ketika daging masak. Jika bulu-bulu kambing masih menempel halus dan tipis, cabuti pelan-pelan. Daging kambing siap olah tidak mengapa disimpan dulu di dalam kulkas sebelum dimasak, sepanjang tidak dicuci dengan air.


Meski demikian, jika Ibu mengalami penyakit tekanan darah tinggi, kolesterol, dan penyakit diabetes ada baiknya membatasi konsumsi daging kambing sesuai dengan porsinya. Jangan mengonsumsi terlalu berlebihan.

Label:

Memakai High Heels Bagi Ibu Hamil

©shutterstock

Bolehkah Hamil Memakai High Heels..?

Beberapa orang memuji karena ibu hamil pun berhak merasa dan tampil cantik, sementara yang lain mengkritik karena risiko jatuh lebih besar, sehingga dapat membahayakan ibu dan bayi.
Sepatu bertumit tinggi membuat banyak perempuan merasa kuat, cantik, dan meningkatkan percaya diri. Banyak selebritis Hollywood yang masih setia menggunakan high heels saat hamil besar, seperti Kim Kardashian dan Jessica Simpson. Beberapa orang memuji karena ibu hamil pun berhak merasa dan tampil cantik, sementara yang lain mengkritik karena risiko jatuh lebih besar, sehingga dapat membahayakan ibu dan bayi.
Kira-kira boleh tidak ya memakai high heels selama hamil? Simak ulasan selengkapnya berikut ini.
Aman Selama Trimester Pertama
Pemakaian high heels masih diperbolehkan untuk ibu hamil yang masih berada pada trimester pertama, seperti yang dikatakan Hilda Hutcherson, MD, profesor klinis kebidanan dan ginekologi di Columbia University Medical Center dan penulis What Your Mother Never Told You About S-E-X. Kenaikan berat badan yang masih sedikit membuat pemakaian sepatu berhak tinggi masih bisa digunakan, tetapi wajib dibarengi dengan kewaspadaan, karena risiko jatuh bisa membahayakan keamanan ibu dan bayi.
Simpan dalam Rak Sepatu
Memasuki trimester kedua, dokter Jennifer Shu mengatakan pada situs kesehatan terkemuka di Amerika Serikat, WebMD, pemakaian high heels bukan ide yang baik. Walaupun memakai sepatu yang beralas lebih lebar atau wedge, kenaikan berat badan dan perubahan bentuk badan dapat menyebabkan pusat gravitasi tubuh berubah, membuat berjalan kurang seimbang. Selain itu, ligament cenderung longgar selama kehamilan, yang dapat menyebabkan ketidakstabilan sendi dan ketegangan otot. Pemakaian high heels juga memperbesar peluang untuk jatuh sehingga bisa menyakiti janin di dalam kandungan.
Gunakan Sepatu Bertumit Rendah
Dokter kandungan Catherine Lynch mengatakan pada situs WebMD, mengenakan high heelsselain berisiko pada kesehatan, juga dapat meningkatkan ketidaknyamanan selama berjalan. Pemakaian sepatu bertumit tinggi terlalu lama dapat menyebabkan kaki membengkak dan sakit pada punggung. Saat memasuki masa kehamilan 25 minggu, gunakan sepatu bertumit rendah atau flat shoes. Tidak perlu takut kelihatan tidak stylish Bunda, sekarang ini banyak kok pilihan sepatu datar yang tidak hanya nyaman tapi juga cute, seperti gladiator sandals dan T-straps.
Selama hamil, alangkah baiknya menyimpan high heels sementara waktu agar dapat menjalani kehamilan dengan nyaman.

Semoga bermanfaat..

Label: